KEIKUTSERTAAN DAN EFEKTIVITAS
Dalam
pengambilan keputusan mengenai suatu hal
pada suatu organisasi, para menejer dan bawahan secara bersama-sama perlu
mempertimbangkan variable-variabel keluaran dan variable-bariabel antara serta
tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Proses ini dapat memberikan manfaat
bagi para bawahan yaitu bawahan dapat ikut serta dalam menentukan dasar
penilaian upaya yang mereka lakukan dan mereka akan lebih ter-arah pada tujuan
dan sasaran yang ditetapkan .
Hal
ini dibuktikan oleh Coch dan French dalam penelitiannya di sebuah pabrik
Amerika. Mereka menemukan bahwa pada saat ada kebijakan perubahan teknologi
dalam berproduksi, para menejer mengajak para pegawai untuk mendiskusikan hal
tersebut. Dengan adanya keikutsertaan pegawai dalam pengambilan keputusan maka penolakan
dari pegawai menurun pada saat penerapannya dan produktivitas pun meningkat.
Penelitian lainnya juga mengungkapkan bahwa keikutsertaan pegawai dalam
pengambilan keputusan cenderung efektif diterapkan dalam masyarakat.
Meskipun
penerapan manajemen partisipatif cenderung efektif di Amerika, tetapi hal ini
tidak efektif ketika diterapkan di sebuah pabrik Norwegia. Ketika French
bersama temannya melakukan studi di pabrik tersebut mereka tidak menemukan
adanya perbedaan produktivitas yang signifikan antara kelompok yang menerapkan
manajemen partisifatif dengan kelompok yang tidak menerapkannya.
Dari
hasil studi di Norwegia itu, dapat menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan
manajemen partisipatif bergantung pada situasi dan budaya yang dimiliki oleh
pengikut dan pelaksana (pegawai).
Manajemen Berdasarkan
Sasaran
Pendekatan
partisipatif yang diterapkan untuk menangani masalah dalam
menyesuaikan tujuan dan sasaran semua
orang dengan tujuan organisasi, yang telah berhasil diterapkan di beberapa
perusahaan di Amerika adalah suatu proses yang disebut Manajemen
Berdasarkan Sasaran (MBS). MBS itu sendiri adalah suatu proses dimana atasan
dan manajer bawahan dalam suatu
organisasi mengidentifikasi tujuan bersama-sama, menetapkan bidang tanggung
jawab pokok setiap orang dalam hubungannya dengan hasil yang diharapkan dari
orang itu, dan menggunakan hal itu sebagai pedoman pengoperasian unit dan
penilaian kontribusi masing-masing anggota unit yang bersangkutan.
Konsep
MBS ini diperkenalkan oleh Peter Durcker pada awal tahun 1950-an dan kemudian
dipopulerkan oleh George Odiorne dan John Humble. Konsep ini dapat diterapkan
pada semua jenis organisasi dan dapat dilaksanakan tidak hanya pemimpin tetapi
juga oleh bawahan. MBS ini dapat digunakan sebagai alat yang efektif untuk
mendapatkan keikatan dan produktivitas yang tinggi dalam suatu organisasi di
mana pemimpin menyadari bahwa keterlibatan bawahan seperti ini sesuai dengan
situasinya.
Adapun
faktor yang memperlancar fungsi dari manajemen ini yaitu kesepakatan antara manajer dengan
bawahan tentang tujuan bawahan sendiri atau tujuan prestasi kelompok dalam
periode yang telah ditetapkan. Kemudian prestasi bawahan yang berhubungan
dengan tujuan yang telah ditetapkan pada akhir periode waktu akan ditinjau dan
dievaluasi bersama-sama oleh atasan dan bawahan.
Hal-hal
yang harus diselesaikan oleh organisasi
dalam seluruh periode waktu tersebut secara keseluruhan perlu dibandingkan
dengan hal-hal yang telah dicapai secara aktual. Penyesuaian-penyesuaian yang
diperlukan harus dilakukan dan tujuan yang tidak tepat harus ditiadakan.
Setelah sesi peninjauan akhir atas sasaran dan prestasi yang dicapai,
ditetapkan lankah-langkah dan penentuan sasaran dan tujuan dalam periode waktu
selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar